Di kamar anak-anak yang sunyi, di antara boneka, kuda goyang, gerobak kayu, dan jam tua yang sering keliru berdetak, berdirilah sebuah celengan tanah liat berbentuk babi di atas lemari paling tinggi.
Ia tidak diletakkan di sana karena kebetulan.
Ia berada di atas karena isinya.
Di punggungnya ada celah yang sudah diperlebar agar koin besar pun bisa masuk. Di dalamnya tersimpan beberapa keping perak dan banyak uang kecil. Perutnya hampir penuh. Kalau diguncang, bunyinya tak lagi nyaring.
Dan dalam dunia benda-benda, kepenuhan sering disalahartikan sebagai keunggulan.
Dari ketinggiannya, celengan memandang ke bawah. Boneka dengan leher yang pernah patah. Kuda goyang yang catnya mulai pudar. Gerobak kayu yang rodanya kerap seret. Tongkat bambu yang bangga pada kepala peraknya.
Mereka semua bergerak, bersuara, berperan.
Tetapi hanya celengan yang menyimpan sesuatu yang bisa mengubah nasib mereka.
Ia tahu satu hal: kalau uang di dalamnya dikeluarkan, semua mainan itu bisa dibeli, dipindahkan, ditukar. Mereka memiliki bentuk. Ia memiliki nilai.
Dan di dunia manusia -yang mereka tiru setiap malam- nilai selalu lebih tinggi daripada bentuk.
Suatu malam, boneka besar mengusulkan permainan baru.
“Mari kita pura-pura jadi orang-orang penting. Kita buat rapat resmi. Ada pidato. Ada diskusi. Seperti orang dewasa.”
Semua setuju dengan riang.
Gerobak berkata ia akan menjadi pekerja yang berbicara tentang kemajuan.
Kuda goyang ingin membahas prestasi dan perlombaan.
Jam tua menawarkan diri sebagai pengatur waktu dan pembahas politik, meski ia sendiri sering meleset.
Mereka menata panggung kecil, menyiapkan sandiwara kehidupan sosial. Undangan dikirim ke semua. Untuk celengan dibuat surat khusus—ia terlalu tinggi untuk dipanggil begitu saja.
Jawabannya singkat: ia bersedia hadir sebagai penonton, tetapi tidak akan turun. Panggung harus menghadap ke arahnya.
Dan mereka menurut.
Dari atas lemari, celengan menyaksikan mainan-mainan itu meniru dunia orang dewasa: berbicara tentang kehormatan, jabatan, kemajuan, masa depan, dan hal-hal besar yang terdengar penting.
Mereka bahkan merencanakan pesta teh dan diskusi “pengembangan pikiran”. Namun yang terdengar lebih jelas adalah keinginan masing-masing untuk diakui.
Tak ada yang sungguh-sungguh mendengarkan. Semua ingin terlihat penting.
Celengan mengamati dengan puas.
Ia tidak perlu berbicara. Kehadirannya sudah cukup. Ia adalah cadangan daya beli. Ia adalah potensi transaksi. Ia adalah janji perubahan.
Ia mulai membayangkan masa depannya: suatu hari mungkin akan dipecahkan dengan khidmat. Uangnya akan dibagi. Namanya dikenang sebagai sumber. Mungkin satu dua mainan akan ia pilih dalam surat wasiat imajinernya sebagai penerima kehormatan terakhir.
Begitulah logika kepemilikan bekerja: ia membayangkan dirinya pusat sejarah.
Padahal ia hanya wadah.
Sementara itu, sandiwara di bawah terus berlangsung. Mereka memainkan struktur masyarakat kecil mereka: pekerja, pembicara, bangsawan, penonton.
Tanpa sadar mereka meniru dunia di luar kamar itu: dunia tempat nilai lebih dihormati daripada keberadaan.
Lemari itu tinggi. Permukaannya sempit. Dasarnya rapuh.
Dan setiap hierarki selalu berdiri di atas kemungkinan jatuh.
Tiba-tiba celengan tergelincir.
Tak ada waktu untuk menyusun pidato terakhir. Tak ada kesempatan mengatur warisan. Tak ada ruang untuk menegaskan kembali siapa yang memiliki siapa.
Ia jatuh.
Tubuh tanah liat itu menghantam lantai dan pecah.
Koin-koin yang selama ini ia sebut “milikku” terpental ke segala arah.
Uang kecil berputar liar.
Koin besar menggelinding menjauh.
Satu keping perak meluncur paling jauh—seolah lega karena akhirnya bebas dari kurungan yang mengaku sebagai pemiliknya.
Tak satu pun koin berusaha kembali.
Nilai tidak pernah setia pada wadahnya.
Pagi hari, serpihan celengan disapu dan dibuang tanpa upacara. Tanah liat kembali menjadi sampah.
Di atas lemari berdirilah celengan baru.
Kosong.
Diam.
Belum punya kuasa apa-apa.
Namun kamar tetap sama. Mainan tetap bermain. Sandiwara tetap berlangsung.
Karena yang benar-benar berkuasa bukanlah benda yang menyimpan nilai; melainkan kepercayaan bahwa nilai itu berarti.
Dan kepercayaan, seperti tanah liat, selalu bisa pecah.


