Saya tidak tahu persis apa yang sedang dilakukan anak muda itu dengan smartphonenya dalam perjalanan di kereta yang sesak malam ini. Tapi saya yakin, dia sedang membutuhkan koneksi internet yang baik.
 
Berkali-kali ia menyemburkan nafasnya lewat hidung keras-keras. Berkali-kali ia memukul-mukulkan router genggamnya ke backpack yang ia sandangkan di dadanya.
 
Tampaknya itu tak mengubah apapun.
 
Ia kembali memukul-mukulkan router genggamnya. Kali ini ia membenturkannya ke tiang besi penyangga bagasi.
 
Saya tidak tahu mengapa ia begitu yakin perbaikan koneksi internet berkorelasi dengan benturan router.
 
Apakah kali ini berhasil? Juga tidak. Itu tampak dari nafas yang ia hembuskan keras-keras lewat mulutnya.
 
Menyerahkah lelaki berkumis ini? Belum.
 
Ia sekarang membenturkan router genggam ke jidatnya sendiri. Berkali-kali.
 
Mulutnya masih mendesah jengkel.
 
Saya berharap ia tidak punya teori bahwa koneksi  internetnya akan membaik jika ia memukulkan routernya ke kepala penumpang lain di depannya.
 
Mohon doa dukungan.