Pernahkah rumah Anda didatangi oleh seorang salesman yang super nekad? Saya mengalaminya beberapa kali. Dulu. Sekarang sudah jarang ada salesman yang 'bertamu' ke rumah.

Pernah, suatu ketika, saya melihat serombongan salesman melintas di depan rumah. Kalau sudah begitu, saya pasti mencoba untuk menyiapkan kalimat sopan untuk menolak tawaran mereka. Biasanya mereka tidak terlalu memaksa jika kita 'sopani'.

Dan benar dugaan saya. Tak berapa lama seorang lelaki muda mengetuk pagar. Kalimat sopan sudah saya siapkan dalam hati. Saya menduga, lelaki ini akan mengucapkan, "Selamat sore, pak". Tapi, bukan itu yang saya dapat.

Begitu dia melihat muka saya, dari kejauhan si lelaki langsung saja nyerocos dengan suara lantang seperti sedang menegur orang, "Pak! Pak! Tadi ada teman saya ke sini, nggak?"

Sembari agak terperanjat spontan saya jawab, "Nggak tuh. Ada apa?"

"Ini pak, saya mau menawarkan .. bla bla bla ...," tetap dengan suara lantang sementara saya belum sampai di depannya.

Semprul! Entah dimana dulu dia bersekolah jadi salesman: nekad dan tidak beradab.

Karena jengkel, saya lupakan kalimat sopan yang sudah saya siapkan tadi. Dan hanya ada satu mantra untuk orang macam ini: TIDAK dan TIDAK. Saya bilang dengan perasaan jengkel, "Nggak, mas!"

Belum sempat saya kembali masuk rumah, si salesman tetap nekad berteriak-teriak dengan kesan menggoda, "Bener nih pak? Nggak nyesel?"

Astaga!!! Orang macam ini tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata. Setahu saya, satu-satunya teknologi yang cukup ampuh untuk melayani orang yang tidak beradab macam ini adalah telunjuk. Dua komputer di rumah saya tidak akan mampu mengalahkan kehandalan teknologi telunjuk untuk menghadapi problem macam ini.

Telunjuk? Ya, telunjuk. Caranya? Angkat telunjuk kanan ke atas, dan arahkan ke wajah si lelaki itu. Ucapkan mantra lain dengan suara keras dan berat, "APA MAKSUD KAMU?"

Dan, benar, teknologi telunjuk cukup ampuh. Si salesman ngeloyor pergi dari depan pagar rumah. Mukanya tertunduk. Dia juga kelihatan jengkel. Masa bodoh!

Ada tipe salesman lain. Tutur bahasanya sopan. Raut wajahnya penuh senyum. Kelihatannya menyenangkan. Kelihatannya.

"Selamat sore, pak," kata si salesman tersenyum ramah ketika ia tahu saya datang menyongsong. Belum sempat saya jawab, ia tetap nyerocos memperkenalkan diri, sambil tangannya membuka slot pintu pagar mencoba masuk ke pekarangan rumah. Eit!!!!

Spontan, teknologi telunjuk lagi-lagi harus dipakai. "SIAPA YANG MENGIJINKAN KAMU MASUK?!," bentak saya. Nyalinya kelihatan menciut. Setelah berbasa-basi sebentar, dia akhirnya ngeloyor pergi juga.

Saking sering berhadapan dengan salesman yang terlalu percaya diri macam itu, beberapa bulan lalu pernah terbetik sebuah gagasan dahsyat di kepala saya.

Saya bilang ke istri saya, "Bagaimana kalau kita memerdekakan diri?"

"Maksudnya?"

"Ya memerdekakan diri, menjadi negara otonom."

"Wilayahnya?"

"Wilayahnya ya seluas rumah kita saja."

"Ngawur!," seloroh sang istri.

"Kalau merdeka kan enak. Bisa melarang orang supaya nggak sembarangan nyelonong masuk pekarangan. Nggak terganggu salesman"

"Ngawur!"

"Orang harus memperlihatkan passpornya kalau bertandang ke rumah kita. Orang tidak bisa sembarangan malam-malam pacaran cekikian sambil duduk-duduk di rumput depan rumah kita."

"Ngawur! Lha kalau tetangga kita yang berkunjung ke rumah bagaimana?"

"Ya harus menunjukkan pasppor dan visa-nya."

"Ngawur! Lha kalau kita yang berkunjung ke rumah mereka bagaimana?"

"Selama mereka belum memerdekakan diri, kan bebas-bebas saja. Salahnya sendiri tidak memerdekakan diri"

"Ngawur!"

"Mumpung lagi musim otonomi lho!"

Tapi segelas kopi yang disodorkan sang istri sore itu melarutkan gagasan dahsyat tadi. Entah kemana lunturnya gagasan itu.

 

(Tulisan ini dipublikasikan pertamakali di mailing list Vipamas pada 16 Desember 2003)