Pengamen Karaoke Stasiun Tanahabang

Mereka yang nyaris saban hari ke stasiun Tanahabang agak sore atau malam pasti pernah melihat lelaki berkumis dan berperawakan kecil.

Dia itu penyanyi karaoke jalanan yang selalu berdiri di gerbang masuk stasiun. Tepatnya, pengamen karaoke.

Saya tidak pernah mendengar dia, lelaki yang selalu bertopi itu, mendendangkan lagu selain yang berirama dangdut.

Salah satu lagu Oma Irama yang sering dia nyanyikan adalah lagu yang satu bagian syairnya berbunyi "Langit bagai atap rumahku dan bumi sebagai lantainya."

Sore kemarin, selagi tanah masih terang, ia -dengan mikropon di tangannya- tidak terlihat sedang menyanyi. Tumben.

Dari speaker yang ditaruh dekat kakinya, nada bicaranya terdengar seperti Oma Irama sedang berpidato. 

Soal politik? Bukan.

Soal agama? Bukan. 

Soal musik? Juga bukan.

Yang terdengar oleh mereka yang sedang bergegas menuju lobby gedung stasiun, lelaki itu berseru-seru, "Helm! Helm! Helm!"

"Wah, nggak denger dia," lanjutnya.

Berkali-kali, lewat pengeras suara mesin karaokenya, ia berteriak lagi, "Helm! Helm! Helm."

Wajah lelaki itu menghadap ke gedung stasiun. Begitu juga muka orang di sekitarnya. 

Di ujung sana, sekitar 50 meter sebelum lobby stasiun, perempuan berkerudung berjalan tergesa seolah takut ketinggalan kereta. Perempuan berkerudung itu baru menghentikan langkahnya ketika serombongan perempuan lain yang juga berkerudung menuding-nuding kepalanya.

Si perempuan langsung berbalik arah sambil melepas helm berwarna hijau bertuliskan "Grab" yang ia tak lepas sejak turun dari motor ojek. Dia, perempuan itu, bergegas.

Di gerbang stasiun, pengemudi ojek menunggunya. Menunggu helmnya, maksud saya.

"Alhamdulillah. Akhirnya dia denger juga," kata si pengamen, masih lewat speaker sistem karokenya, sambil menyeka keringat di tengkuknya.

Sore itu udara memang masih sangat panas. Selain juga berkeringat, pundak saya terasa lebih tegang, dengan beban setumpuk buku dan obat-obatan di tas. 

Hari itu saya harus membawa tas kulit yang agak besar supaya bisa mengangkut barang-barang saya yang masih tersisa di laci meja karena hari berikutnya saya sudah tidak bekerja di sana lagi.

Tak berapa lama, suara pengamen berperawakan kecil dan berkumis besar itu terdengar. Ia menyanyikan lagu yang itu lagi, "Langit bagai atap rumahku dan bumi sebagai lantainya. Hidupku menyusuri jalan." 

Cengkoknya sudah mirip Bang Haji Rhoma.