Membeli Sate Sandung Lamur

Siapa bilang penjual selalu harus tersenyum kepada pelanggannya?

Perempuan tua itu tak tersenyum menyambut calon pembelinya. Saya kira itu lumrah kalau dia sedang sangat sibuk dan seperti tak ingin terganggu ketika mengipas-ngipas bakaran satenya.

Dia cukup mengatakan 3 ribu sambil menunjuk sate sandung lamur dan 4 ribu untuk sate daging sambil membuka daun penutup sate.

"Ketupatnya juga 3 ribu," katanya sambil tetap matanya tidak peduli kepada pembelinya. Mukanya dingin. Bahkan saya mengira dia terlihat agak cemberut.

Agak mengherankan memang melihat aura masam penjual di depan pembelinya. Buat saya, dia bukan pedagang berwajah masam pertama yang saya pernah jumpai.

Apakah saya terbawa ikut kesal mendapati wajah dingin penjual? Tentu tidak, jika makanan dagangannya enak.

Saya malah menikmati percakapan perempuan tua dengan para calon pembelinya. Dalam Bahasa Jawa , tentu saja.

Pembeli 1: Ini sate apa, Bude?
(Penjual diam saja)
Pembeli 1: Ini sate kulit, ya?
Penjual (dengan nada sinis): Kulit. Kulit singkong, po.
Pembeli 1 (kaget): Saya tidak tahu. Makanya saya tanya Bude.
Penjual: Ini sate sandung lamur sapi.
Pembeli membayar dua tusuk sate untuk 2 anaknya.

Pembeli 2: Ketupatnya ada, mbah?
Penjual: Apa nggak lihat itu ketupat saya gantung?
Pembeli 2: oh iya, mbah.
Pembeli 2 langsung beralih ke pedagang lain.

Pembeli 3: Saya mau beli 5 saja, boleh?
Penjual (dengan nada ketus): 1 aja boleh kok.
Pembeli 3 tersenyum dan bersetia menunggu giliran dilayani.

Pasar Beringharjo padat pengunjung pada siang yang mendung itu. Karena terdesak oleh pejalan kaki lain, saya sesekali harus menggeser tempat berdiri menunggu pesanan dibungkus.

"Ya, sama-sama, mas," balas perempuan itu ketika saya berterimakasih menerima 20 tusuk sate yang dibungkusnya setelah membayar beserta 2 pincuk sate yang kami makan di tempat.

Dan, aha, untuk pertama kalinya saya melihat dia tersenyum.

Dan, sumpah, satenya enak.