Di tengah cuaca yang tak menentu macam begini, saya selalu membawa payung kecil dan jas hujan tipis setiap hari kerja. Agak memenuhi tas salempang kecil saya, memang; tapi itu sepadan dengan keuntungannya.

Tadi malam, berkat payung kecil itu, gerimis tidak menghalangi saya untuk berjalan kaki dari kantor ke stasiun.

Hujan yang belum berhenti di stasiun tujuan juga tidak mencegah saya untuk mencari tumpangan roda dua. Saya tinggal memakai jas hujan dan memesan tumpangan secara online.

"Saya sudah di pangkalan. Saya memakai jas hujan warna biru," tulis saya lewat chat ke si pengemudi.

Barang 5 atau 6 menit kemudian, pemuda yang rambutnya basah berjalan ke arah saya sambil menggenggam teleponnnya.

Dia melihat saya dan bertanya dengan suara lantang, "Pak Ardian?"

Saya menggeleng.

Masih dengan suara keras, dia berpaling ke arah lain, "Pak Ardian!"

Seseorang yang sudah terbungkus jas hujan, persis di sebelah lelaki yang berteriak-tariak itu, mengacungkan tangan.

"Pak Ardian?"

"Iya."

Pengemudi itu mengernyitkan dahinya. Ia melihat ke arah teleponnya sebentar, sebelum berkata dengan suara keras, "Di sini ditulisnya pake jas hujan biru."

"Bener kan? Saya pake jas hujan biru," balas penumpangnya tegas sambil menunjuk jas hujannya yang berwarna hijau.

Tumpangan, yang saya tunggu-tunggu, baru datang 2 menit kemudian. Lama sekali rasanya.