Nilai-nilai mata pelajaran IPA saya buruk ketika SMA. Saya melupakan keinginan untuk menjadi mahasiswa di jurusan eksakta.

Lebih baik, pikir saya waktu itu, menekuni urusan yang saya minati sejak SMP: menulis. Sayangnya, saya tidak tahu sekolah yang tepat untuk itu.

Dengan ketidaktahuan itu, saya memilih Publisistik UNPAD sebagai pilihan pertama dalam SIPENMARU. Saya lupa, publisistik itu fakultas ataukah jurusan di UNPAD waktu itu.

Lalu, pilihan kedua apa yang akan saya ambil? Saya tak punya ide waktu itu.

Daripada pusing memutuskan sesuatu yang tidak saya tahu, lebih baik saya menyandarkan diri pada hal yang saya tahu: jika tidak di Bandung, saya ingin kuliah di Yogya.

Jadi, tak perlu pertimbangan yang sulit bagi saya untuk memilih UGM. Masalahnya berikutnya yang harus saya pecahkan: mau ambil fakultas apa?

Sudah saya katakan tadi. Saya tidak punya ide. Saya telusuri saja daftar fakultas dan jurusan yang tersedia di UGM saat itu.

Sebetulnya, saya tak tahu banyak hampir semua fakultas dan jurusan yang tersedia. Namun ada satu fakultas yang terlihat gelap bagi saya: Fakultas Filsafat.

Saya sama sekali tak punya gambar tentang apa yang dipelajari mahasiswa di Fakultas Filsafat. Saya malah nekad menebak-nebak: di Fakultas Filsafat mungkin orang belajar membuat kata-kata mutiara. Kalau tebakan saya benar, fakultas tersebut bisa jadi cocok dengan minat saya untuk menulis. Pikir saya begitu waktu itu.

Jadi, jelaslah sudah pilihan saya dalam SIPENMARU 1984:Publisistik UNPAD sebagai pilihan pertama, dan Fakultas Filsafat UGM sebagai pilihan kedua.

Itu juga yang saya katakan kepada teman yang bersama-sama mengantri menyerahkan formulir pendaftaran SIPENMARU.

“Tidak bisa begitu,” kata teman.

“Kenapa?”

“UGM itu di luar rayon kita,” jelasnya.

Saya tidak begitu paham urusan rayon. “Lalu, harus bagaimana?”

“Universitas yang di luar rayon kita itu harus jadi pilihan pertama,” dia terlihat ngotot.

Dalam antrian, jarak saya dan teman itu ke loket penyerahan berkas sudah sangat dekat. Tak mau repot, saya mengambil keputusan cepat di tengah antrian: mengubah pilihan saya. Fakultas Filsafat UGM saya jadikan pilihan pertama, Publisitik UNPAD jadi pilihan kedua.

Apa ruginya?

Tanggal 15 Syawal 1404 Hijriyah, nama saya muncul di daftar calon mahasiswa yang lolos SIPENMARU. Saya diterima di Fakultas Filsafat UGM.

Jadi, kenapa saya kuliah di Fakultas Filsafat UGM?